Senin, 23 Juni 2014

DAUR HIDUP ORANG JAWA DALAM SERAT TATACARA



ST dikarang oleh Ki Padmasusastra dan Nyai Padmasusastra pada tahun 1863-1904 M. Penggarapannya sampai dengan tahun 1904 dilakukan di nagari Batawi (sekarang Jakarta), kemudian penyelesaiannya dilakukan di Surakarta. ST yang dikaji dalam penelitian sudah merupakan naskah cetak yang diterbitkan oleh Kangjeng Gupremen di Batawi pada tahun 1907. Serat ini digubah dalam bentuk prosa sebanyak dua jilid. Jilid pertama terdiri dari 22 bab, 80 halaman. Jilid kedua terdiri dari 18 bab, 105 halaman. ST hasil cetakan Kangjeng Gupremen masih ditulis dengan aksara Jawa. Alih aksara kemudian dilakukan oleh Ny. Jumeri Siti Rumiyah, B. A., salah satu staf di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisi (Jarahnitra) Yogyakarta.

ST disajikan dalam bentuk dialog atau tanya jawab antaranggota keluarga. Keluarga yang menjadi pokok cerita dalam serat ini adalah keluarga seorang bangsawan yang bernama Tangkilan. Cerita berawal dari menantu Tangkilan yang sedang mengandung. Setelah itu, cerita bergulir melalui dialog-dialog antara Tangkilan, istri, putra, menantu, pembantu-pembantu, tetangga, dan tokoh-tokoh lain dalam cerita. Dialog yang dilakukan secara keseluruhan memberikan keterangan mengenai tahapan-tahapan upacara daur hidup yang dilakukan oleh keluarga bangsawan tersebut.

Beberapa versi lain ST dalam khasanah kesusastraan Jawa berdasarkan berikut studi katalog adalah sebagai berikut.
a.       Tatacara Surakarta (kode UR.4), Serat Tatacara (kode LL.62 dan UR. 32) koleksi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (Behrend dan Pudjiastuti, 1997: 1152).
b.       Serat Tatacara kode 24245 koleksi Pura Mangkunegaran Surakarta (Girardet dan Soetanto, 1983: 363).

1.      Tatacara dan Upacara Prenatal
Tabel 1: Hasil Penelitian Tatacara dan Upacara Prenatal dalam ST
No.
Tata Cara/ Upacara
Sarana
1.
Tata cara mengenali tanda-tanda kehamilan,
-
2.
Larangan-larangan selama masa kehamilan
-
3.
Anjuran-anjuran selama masa kehamilan
Air garam, jamu-jamuan
4.
Wilujengan satu bulan
Jenang sungsum
5.
Wilujengan dua dan tiga bulan
Sekul janganan, jenang, jajan pasar kembang boreh
6.
Wilujengan empat bulan
Sega punar, ulam maesa setunggal, ketupat
7.
Wilujengan lima bulan
Sekul janganan, jenang, jajan pasar kembang boreh, uler-uler, enten-enten, rujak crobo
8.
Wilujengan enam dan tujuh bulan
Apem kocor, sekul janganan
9.
Wilujengan delapan bulan
Bulus angrem, singgatan
10.
Wilujengan sembilan bulan
Jenang ceprot, dhawet plencing
11.
Tingkeban
Kembang setaman, wedhak, mangir, sindu atau cengkaruk, pon-empon, sriyatan, penyon, sampora, pring sadhapur, tumpeng robyong, sajen, ingon,
12.
Tata Cara selama Proses Kelahiran
Banyu emas, igaran

Tatacara yang dilakukan selama masa prenatal ‘hamil sampai dengan melahirkan’ tidak hanya melalui upacara-upacara tetapi juga dalam bentuk-bentuk pantangan-pantangan bagi wanita yang sedang hamil. Tatacara selama masa kehamilan dalam ST disajikan melalui dialog antara Nyai Ajeng dan menantunya yang sedang hamil yaitu Raden Nganten. Deskripsi tatacara selama masa kehamilan disajikan dalam pembahasan di bawah ini.
a.      Tanda-Tanda Kehamilan
Disebutkan dalam ST bahwa wanita yang sedang hamil memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) payudara membesar dan membulat, (2) nafas pendek-pendek, (3) wajah sumunu mancur ‘kehijau-hijauan’, (4) merasa letih dan lesu, (5) mempunyai keinginan untuk menyantap jenis-jenis makanan yang rasanya pedas masam seperti rujak serta mempunyai keinginan berlebih terhadap jenis makanan tertentu. Tanda-tanda kehamilan tersebut dalam ST disebut dengan istilah nyidham ‘ngidam’. Orang Jawa terkenal titen, hal-hal yang terjadi berulang-ulang kemudian dicatat untuk diturunkan sebagai ilmu kepada generasi berikutnya. Hal inilah yang kemudian menjadi kearifan lokal. Tanda-tanda kehamilan yang dikemukakan dalam ST secara umum dikenal dengan istilah morning sickness. Tanda-tanda kehamilan secara ilmiah disebabkan karena faktor gula darah yang rendah, tekanan darah rendah, perubahan hormonal, kekurangan gizi terutama vitamin B6 dan zat besi, kelebihan konsumsi makanan olahan, pedas maupun berminyak (Balaskas, 2005: 86).
b.      Larangan-Larangan Selama Masa Kehamilan
Selama masa kehamilan, terdapat beberapa larangan yang harus dipatuhi oleh wanita yang sedang hamil. Hal tersebut misalnya terdapat dalam acuan data berikut.
Sirikane: aja sok linggih tengah lawang, linggih lumpang utawa alu, mangan disangga, iku dadi pangane Bethara Kala… ora kena mangan iwak kang angsare panas, kayata menjangan…, mangan duren lan maja iya ora kena…

‘Pantangannya: jangan sekali-sekali duduk di tengah pintu, duduk di atas lumpang atau alu, makan dengan piring tersangga tangan. (Jika dilaksanakan) akan menjadi mangsa Bethara Kala…tidak boleh makan daging yang menyebabkan panas, seperti daging kijang…, makan durian dan buah maja juga tidak boleh’

Larangan-larangan di atas pada dasarnya merupakan gugon tuhon. Gugon tuhon adalah perkataan atau dongeng yang dipercaya mempunyai daya atau kekuatan. Jika perkataan atau dongeng itu tidak dipatuhi, maka orang yang melanggarnya akan memperoleh kesialan dan kesengsaraan dalam hidupnya (Sutrisno, 1982: 44).Gugon Tuhon dibagi menjadi tiga, yaitu gugon tuhon satuhu, wasita sinandhi, dan pepali atau larangan. Gugon tuhon satuhu adalah kepercayaan bahwa seorang anak yang disebut dengan bocah sukreta akan menjadi mangsa Bethara Kala. Bocah sukreta misalnya bocah ontang-anting ‘anak tunggal’,  bocah kedhana-kedhini ‘sepasang anak laki-laki dan perempuan’, dan lain-lain. Selain memangsa bocah sukreta, Bethara Kala juga akan memangsa orang-orang yang masuk golongan wong pangayam-ayam. Termasuk golongan wong pangayam-ayam antara lain orang yang memecahkan pipisan, merubuhkan dhandhang ‘alat masak’, dan lain-lain. Bocah sukreta maupun wong pangayam-ayam akan terhindar dari Bethara Kala jika sudah melaksanakan upacara ruwatan. Gugon tuhon yang kedua adalah wasita sinandhi, yaitu nasihat yang tersamar yang pada umumnya diawal dengan kata ora ilok ‘tidak pantas’. Gugon Tuhon yang ketiga adalah pepali atau wewaler, yaitu larangan-larangan turun-temurun dari par leluhur.
 Termuat dalam ST bahwa wanita hamil yang melanggar larangan yang tersebut di atas akan dimakan Bethara Kala, tentu saja hal ini tidak masuk akal. Menilik dari ciri dan fungsinya, larangan ini termasuk jenis gugon tuhon wasita sinandhi atau nasihat yang tersamar. Sebagai contoh kasus, larangan duduk di tengah pintu sebenarnya merupakan nasihat terselubung karena jika ada yang duduk di depan pintu, akan menghalagi orang yang lalu-lalang. Demikian juga makan dengan menyangga piring. Sebenarnya larangan tersebut bertujuan baik, karena makan dengan cara disangga sangat riskan sebab jika tidak waspada, piring yang sedang disangga dapat tumpah sewaktu-waktu. Menurut ST, wanita yang sedang hamil juga tidak diperbolehkan makan ikan sungsang. Karena jika makan ikan sungsang, dimungkinkan bayi yang dilahirkan juga akan sungsang.
Larangan memakan daging dan buah-buahan tertentu sebenarnya lebih bersifat medis. Daging kijang, buah durian, dan maja tidak boleh dimakan oleh wanita hamil karena makanan-makanan tersebut dapat meningkatkan suhu tubuh, membuat perut terasa panas, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan keguguran. Disebutkan pula dalam ST, adanya larangan memakai bunga-bungaan, hiasan sisir, memakai cincin dan gelang kecil karena mempunyai watak kandheg ‘terhenti’. Bersumping bunga-bungaan, maka tangkai bunga tersebut akan terhenti di telinga, hiasan sisir terhenti rambut, cincin terhenti di pangkal jari, dan gelang kecil terhenti di pergelangan tangan. Larangan-larangan tersebut sebenarnya bersifat sugesti, dan merupakan harapan terselubung agar proses kehamilan dan kelahiran dapat lancar, tidak kandheg.
c.       Anjuran-Anjuran Selama Masa Kehamilan
Selama masa kehamilan dianjurkan melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) setiap hari Rabu dan Sabtu mandi dan mencuci rambut, memotong kuku, dan menghitamkan gigi, (2) sebelum tidur mencuci tangan dan kaki dengan air garam, dan (3) minum jamu-jamuan. Anjuran pertama selama masa kehamilan mempunyai makna kepasrahan. Kehamilan merupakan masa-masa riskan dan beresiko. Wanita yang sedang hamil dapat meninggal sewaktu-waktu. Mandi keramas dan memotong kuku merupakan salah satu cara untuk menjaga kebersihan. Jadi jika sudah membersihkan diri, setiap saat dipanggil Tuhan, sudah dalam keadaan bersih.
Anjuran kedua dimaksudkan untuk menjaga keselamatan ibu hamil. Karena mencuci tangan dan kaki dengan air garam dapat mencegah gigitan ular maupun binatang-binatang yang lain. Selain anjuran di atas, disebutkan pula dalam ST bahwa wanita hamil harus minum jamu-jamuan untuk menjaga kesehatan.
d.      Wilujengan Selama Masa Kehamilan
Wilujengan ‘selamatan’ selama masa kehamilan dilakukan dari bulan pertama sampai dengan bulan kesembilan. Wilujengan ‘selamatan’ selama masa kehamilan dilakukan dari bulan pertama sampai dengan bulan kesembilan. Wilujengan setiap bulannya diuraikan dalam keterangan berikut.
1)     Wilujengan Satu Bulan
Wilujengan satu bulan kehamilan dinamakan ngebor-ebori. Sarana yang disiapkan adalah jenang sungsum ‘bubur dari tepung beras yang dicampur dengan garam, dimakan dengan juruh santan’. Jenang sungsum mempunyai makna simbolik sebagai lambang kekuatan dengan harapan calon ibu diberi kekuatan untuk melalui masa kehamilan dan dapat melahirkan dengan lancar.
2)     Wilujengan Dua dan Tiga Bulan
Wilujengan 2 dan 3 bulan kehamilan menggunakan sarana yang sama, yaitu:
-         Sekul Janganan, berupa tumpeng yang dikelilingi dengan berbagai macam sayuran. Tetapi jenis sayuran sekeliling tumpeng berjumlah ganjil. Sekitar 5 sampai dengan 9 jenis. Sayur-sayuran ini kemudian dicampur dengan parutan kelapa yang dibumbui. Selain sayur-sayuran, untuk melengkapi tumpeng juga ditambahkan kedelai, gudhe ‘kacang kara’, ampas sayur kluwih yang sudah dicampur bumbu lada, sambal puyang, sambal laos, sambal kedelai, sambal wijen, sambal gepeng ‘kacang putih’, sambal kluwak, ampas wijen, dan ikan asin yang dibakar. Ditambah dengan satu butir telur yang dibelah menjadi lima. Semua sarana tadi dicampur di sekeliling tumpeng.
-         Jenang ‘bubur halus’. Berbagai macam jenang yang dipakai untuk wilujengan adalah jenang abrit (warnanya merah dan putih),  jenang baro-baro yang dimasak dari tepung beras dan dibagi menjadi dua. Bagian pertama tepung beras dimasak dengan santan. Bagian kedua dimasak dengan gula jawa. Dipakai pula jenang katul, yang dibuat dari kulit padi halus yang kemudian dicampur dengan gula jawa disisir halus ditambah dengan parutan kelapa. Sedangkan jenang baro-baro dimaksudkan untuk milujengi saudara-saudara (kakang kawah adhi ari-ari) atau bagian-bagian dari rahim yang lahir bersama bayi.
-         Jajan Pasar Kembang Boreh yang terdiri dari opak angin ‘nama jenis makanan, yang jika dibakar akan bertambah besar’, pisang pulut, pala kependhem (terdiri dari gembili dan kimpul), ampas kelapa yang diberi bermacam-macam warna, yaitu merah, hitam, kuning, biru, dan putih, carabikang ‘srabi ukuran kecil’ satu buah, kupat luwar 1 buah ‘beras kuning yang dibungkus dengan janur seperti ketupat biasa, jika ditarik dapat lepas dengan mudah’ (Poerwadarminta, 1939: 238a). Selain itu juga ditambahkan dengan empon-empon yang terdiri dari sunthi, kencur, kunir, lempuyang, jahe, bengle). Ditambahkan pula kapas, ampo ‘tanah liat bakar’, injet, dan nasi sayur yang dibungkus dengan daun.
3)     Wilujengan Empat Bulan
Wilujengan empat bulan tidak memakai sarana yang terlalu banyak seperti pada kehamilan 2 dan 3 bulan. Sarana yang dipakai adalah sega punar ‘yaitu sekul wuduk ‘nasi uduk yang dicampur dengan kunyit dan sedikit asam’. Ditambah dengan lauk ulam maesa setunggal ‘daging kerbau yang lengkap dengan jerowan dan satu biji mata’, ditambah sambal goreng, dan ketupat empat buah.
4)     Wilujengan Lima Bulan
Wilujengan lima bulan menggunakan sarana seperti pada wilujengan 2 dan 3 bulan, tetapi ditambah dengan uler-uler ‘tepung beras dicampur air, pewarna, beras ketan yang juga diberi warna-warni, enten-enten ‘parutan kelapa dicampur gula jawa’, kemudian dibentuk bulat-bulat. Enten-enten dimakan bersama dengan beras ketan. Selain sarana di atas, para tetangga dekat dan keluarga juga diberi hantaran yang dimasukkan dalam ponthang ‘semacam wadah yang terbuat dari janur kuning’. Agar antarikatan ponthang tidak lepas, diberi biting dari jarum lima warna (kuning emas, suwasa ‘kuningan’, salaka, tembaga, dan besi. Lambaran yang dipakai yaitu lemper siti ‘cobek yang terbuat dari tanah’. Isi ponthang yaitu sekul punar, gorengan daging, dan makanan-makanan lain yang sudah disebutkan di atas. Ditambah dengan rujak crobo ‘rujak yang dibumbui dengan sunthi kencur’.
5)     Wilujengan Enam dan Tujuh Bulan
Wilujengan 6 dan 7 bulan dilakukan dalam satu waktu. Sarana yang dipakai yaitu apem kocor ‘apem yang terbuat dari tepung beras dicampur dengan sedikit ragi, kemudian ditumbuk, dicampur dengan air, selanjutnya dijemur’. Sesudah jadi, kemudian dicetak, tanpa diberi bumbu. Karena diberi ragi, rasanya sedikit masam. Kemudian apem dimakan dengan juruh santan. Selain apem kocor, ditambah pula dengan sekul janganan.
6)     Wilujengan Delapan Bulan
Sarana wilujengan delapan bulan yaitu bulus angrem klepon yang ditutupi dengan srabi warna putih yang dihadapkan ke bawah’. Klepon melambangkan telur penyu, sedangkan srabi melambangkan kulit penyu.
7)     Wilujengan Sembilan Bulan
Wilujengan sembilan bulan menggunakan jenang ceprot dengan harapan calon ibu mendapatkan kemudahan ketika melahirkan. Jenang ini dibuat dari tepung beras yang dicampur air dari santan kelapa dan gula Jawa, kemudian diaduk sampai kental. Setelah masak, kemudian dicampuri dengan pisang utuh yang sudah dikupas. Jenang ceprot kemudian dimasukkan dalam takir ‘semacam wadah yang terbuat dari daun pisang’. Jika sudah memasuki akhir bulan ke-9, tetapi belum ada tanda-tanda akan melahirkan, diadakan wilujengan dengan sarana dhawet plencing. Dhawet ini dijual kepada anak-anak. Tetapi uang yang dibayarkan bukan uang sebenarnya, tetapi memakai wingka.
Wilujengan selama masa kehamilan pada dasarnya sama. Wilujengan yang penyelenggaraannya istimewa adalah wilujengan pada bulan ketujuh, yang disebut dengan upacara Tingkeban. Untuk mengadakan upacara ini biasanya dipilih hari Rabu atau Sabtu, sebelum bulan purnama. Tanggal yang dipilih harus ganjil. Boleh tanggal 3, 5, 7, 9, 11, 13, atau 15 asalkan belum bulan purnama. Salah satu prosesi upacara adalah memandikan calon ibu. Biasanya mengambil waktu pada pukul 11.00 WIB siang. Prosesi upacara dimulai oleh calon nenek dari pihak suami yang menjatuhkan teropong. Jalannya teropong yang dengan cepat jatuh ke bawah, merupakan lambang permohonan agar proses kelahiran bayi juga dapat berlangsung dengan lancar dan cepat, seperti jalannya teropong.
Sesudah itu dijatuhkan pula melalui letrek, cengkir gadhing yang sudah digambari atau dilukisi tokoh Kamajaya dan Kamaratih, Panji dan Candra Kirana, atau Janaka dan Sembadra. Prosesi menjatuhkan cengkir gadhing ini agar kelak bayi yang lahir, jika laki-laki tampan seperti Kamajaya, Janaka, atau Panji, jika perempuan cantik seperti Kamaratih, Sembadra, atau Candra Kirana.
Sesudah dua prosesi ini berlangsung, calon ayah digandeng bapak dan mertua berangkat dari pendhapa menuju tempat dilangsungkannya prosesi. Sesudah itu, ibu si istri memecah atau membanting telur mentah, dan membelah cengkir gadhing yang tadi dijatuhkan. Prosesi ini melambangkan agar bayi yang dilahirkan sehat, tidak kurang suatu apa. Sesudah prosesi ini calon ibu menuju ke rumah. Jalan yang akan dilewati, diberi alas dengan kain mori. Mori melambangkan niat suci dan kepasrahan calon ibu kepada Tuhan YME. Sesudah itu, calon ibu berganti-ganti kain sebanyak tujuh kali.
Perlambang dalam prosesi ini terdapat dalam acuan data berikut:
…punika inggih ugi kalebet pasemon gampil anggenipun manak, kados saangenipun tapihan, plotra-plotro …
           
‘…itu merupakan perlambang, mudahnya proses kelahiran, seperti mudahnya kain-kain ini terlepas, plotra-plotro

Kain-kain tersebut kemudian ditumpuk dan diduduki oleh calon ibu. Prosesi ini sebagai lambang agar proses kelahiran berlangsung dengan mudah, semudah terlepasnya tujuh buah kain tadi. Malamnya, diadakan pagelaran wayang dengan lakon Lairipun Gathotkaca “Lahirnya Gatotkaca’. Pringgawidagda (2003: 6-8), menyebutkan bahwa dalam proses Tingkeban, motif kain yang lazim dipakai yaitu Sidamukti, Truntum, Sidaluhur, Parangkusuma, Semenrama, Udan Riris, Cakar Ayam, Grompol, Lasem, dan Dringin. Secara umum, motif-motif kain ini mengandung harapan-harapan terhadap sifat dan nasib anak yang akan dilahirkan, seperti tampak dalam tabel berikut.
No.
Motif Kain
Makna atau Harapan
1.        
Sidamukti
Menjadi orang yang sejahtera dan disegani banyak orang
2.        
Truntum
Agar anak mewarisi kebaikan akal budi kedua orang tuanya
3.        
Sidaluhur
Anak yang akan lain menjadi pribadi yang santun dan berbudi pekerti luhur
4.        
Parangkusuma
Harapan agar anak yang dilahirkan mempunyai akan setajam parang (cerdas)
5.        
Semenrama
Agar anak yang akan dilahirkan mempunyai sifat halus, penuh cinta kasih
6.        
Udan riris
Harapan agar anak menjadi pribadi yang mampu menyejukkan dan memberi kesegaran
7.        
Cakar Ayam
Anak pandai mencari rezeki seperti halnya ayam
8.        
Grompol
Agar anak mampu menyatukan seluruh keluarga, sehingga tidak tercerai-berai atau nggrompol
9.        
Lasem
Kain bermotif garis vertikal, dipakai dengan harapan agar anak senantiasa bertaqkwa kepada Tuhan YME.
10.    
Dringin
Kain bermotif garis horisontal, dipakai dengan harapan anak mempunyai hubungan yang selaras dengan lingkungan sosialnya.

e.       Tata Cara selama Proses Kelahiran
Disebutkan dalam ST, perempuan yang akan melahirkan diharuskan menghadap ke arah barat, sesuai dengan jalannya air. Ketika proses kelahiran akan dimulai, suami memangku si istri sambil meniup ubun-ubunnya. Pada saat memangku, rambut suami tidak boleh terikat (harus terurai), tidak boleh menggunakan hiasan sisir, memakai sabuk, kain tidak boleh ditalikan. Saat proses kelahiran, semua pintu rumah harus dalam keadaan tidak terkunci. Tali-tali ponjen ‘kantong tempat jejamuan’ juga harus terbuka, dan keris-keris harus dilepaskan dari wrangkanya. Tatacara ini pada dasarnya merupakan usaha untuk menghilangkan sifat kandheg ‘terhenti’. Larangan-larangan tersebut sebagai simbol agar proses kelahiran berjalan lancar tidak ada yang ngendheg-ndhegi ‘menghalang-halangi’.

2.      Tatacara dan Upacara Pascanatal
Tabel 2: Hasil Penelitian Tatacara dan Upacara Pascanatal dalam ST
No.
Tata Cara/ Upacara
Sarana
1.        
Cara memotong tali pusar         
Welat, kendhil, kopohan
2.        
Cara merawat potongan tali pusar
Daun senthe, bathok bulu, kendhil, kemiri gepak jendhul, kembang boreh, gereh pethek, dom, beras abang, lenga wangi, lemper, tulisan berhuruf Arab dan Jawa, kain mori, tindhih.
3.        
Cara merawat ibu dan bayi sesudah proses kelahiran
Madu dari bunga-bungaan, daging buah kelapa, sirih
4.        
Brokohan
Sega asah, iwak kebo siji, pecel pitik, jangan menir
5.        
Puput Puser
Merica, bawang merah bakar, pisang ambon, gula kelapa, nasi, sayur-sayuran, bubur merah, jenang baro-baro, jajan pasar, benang lawe, daun-daunan, injet, jelaga, mainan anak-anak, gandhik
6.        
Sepasaran
Tumpeng, jenang merah putih, baro-baro, jajan pasar
7.        
Selapanan
Tumpeng, inthuk-inthuk
8.        
Slametan 40 hari sesudah melahirkan
Tumpeng, sayur mayur, banyu asem
9.        
Tedhak siten
Nasi dan sayur mayur, juadah tujuh warna, tebu, suji, air sekar setaman, beras kuning, anggris, talen salaka, padi, kapas, raja brana, kurungan ayam,
10.    
Slametan satu tahun
Tumpeng dan sayur mayur, jenang gaul
11.    
Slametan nyapih
Ramuan kunyit, ketumbar, jamu-jamuan, larik, pupuk, wedhak, dhukut sewu, wedang legon dhadhap

a.      Cara Memotong Tali Pusar
Sesudah bayi lahir, dilakukan pemotongan tali pusar. Tali pusar dipotong dengan menggunakan welat ‘bambu tipis dan tajam’. Welat dapat digunakan lebih dari satu kali, untuk adik-adik si bayi yang akan lahir kemudian. Oleh karena itu, ada istilah sedulur nunggal welat. Kain yang dipakai untuk melahirkan kemudian dicuci bersih dan dipakai sebagai kopohan. Artinya kain tersebut tidak akan dipakai lagi, hanya disimpan. Jika suatu saat bayi sakit, lazimya kain tersebut akan dipakaikan sebagai selimut.
b.      Cara Merawat Potongan Tali Pusar
Potongan tali pusar yang sudah dicampur dengan kunyit, dimasukkan dalam kendhil yang sudah dialasi daun senthe bersama dengan kemiri gepak jendhul sebagai lambang suami istri, kembang boreh, gereh pethek, dom, beras abang, minyak wangi, garam, sirih, uang senilai satu gobang. Dimasukkan pula tulisan dalam huruf Arab dan huruf Jawa, dengan harapan agar kelak anak yang dilahirkan pintar mengaji dan membaca.
c.       Perawatan Ibu dan Bayi Sesudah Proses Kelahiran
Sesudah bayi lahir dan dibersihkan, jika bayinya laki-laki dikumandangkan azan oleh kakek si bayi. Jika bayi perempuan dikumandangkan qomat. Setelah diazani atau diqomati, tempat tidur bayi digebrak sebanyak tiga kali, agar kelak bayi tidak menjadi orang yang mudah kaget. Sebelum bayi bisa menyusu kepada ibunya, menurut ST terlebih dahulu diberi minum madu dari bunga-bungaan dan daging kelapa yang masih sangat lunak. Selain itu, terdapat pula larangan bahwa ibu yang baru saja melahirkan, tidak diperbolehkan tidur terus-menerus karena dikhawatirkan dapat meninggal tanpa sadar.
d.      Upacara Brokohan
Sesudah bayi lahir, diadakan slametan brokohan. Ketika bayi berumur 2, 3, 4 hari tidak ada slametan atau wilujengan khusus.
e.       Upacara Puput Puser
Upacara yang istimewa selama pascanatal adalah upacara Puput Puser.  Salah satu sarana yang penting dalam upacara ini adalah mainan anak-anak yang diperuntukkan bagi kerabat bayi (kakang kawah adhi ari-ari, sedulur papat lima pancer). Maksudnya kakang kawah karena kawah atau air ketuban pecah mendahului bayi, sehingga kawah dianggap sebagai saudara tua bayi, sedangkan ari-ari keluar sesudah bayi lahir, sehingga disebut adhi ari-ari. Sedulur papat lima pancer dimaksudkan bahwa saat bayi lahir di dunia, tidak hanya sendirian tetapi dengan empat saudara, yaitu kawah, ari-ari, darah, dan pusar, lima pancer maksudnya bayi itu sendiri sebagai pancer atau pusatnya. Konsep sedulur papat lima pancer ini dipakai sebagai salah satu konsep dasar kehidupan oleh masyarakat Jawa. Konsep ini sudah mendarah daging dalam jiwa setiap masyarakat Jawa. Hal ini terbukti dalam termuatnya konsep ini dalam primbon-primbon yang sampai sekarang ini masih kerap menjadi pedoman masyarakat Jawa dalam pengambilan keputusan seperti pindah rumah, menikahkan anaknya, memilih jodoh, dan lain-lain.
Salah satu primbon yang memuat mengenai konsep kakang kawah adhi ari-ari adalah Primbon Jawi. Disebutkan dalam Sura (2005: 27) bahwa saudara-saudara bayi tidak hanya 4, melainkan 8, yaitu (1) Celeng Demalung dari kawah, (2) Asu Ajag dari ari-ari, (3) Kalasrenggi dari darah, (4) Kutilapas dari bungkus, (5) Kalarandhing dari lendir, (6) Kalawekas dari kunir yang dijadikan sebagai alas, (7) Taliwangke dari usus ari-ari, dan (8) Tikus Jinanda dari bagian ari-ari yang terlepas.
f.       Upacara Sepasaran
Bayi yang berumur sepasar atau lima hari juga dislameti, tetapi secara sederhana.
g.      Slametan Selapanan
Saat bayi berumur 35 hari, diadakan upacara selapanan. Pada upacara ini, untuk pertama kali bayi dipotong rambutnya. Biasanya yang memotong adalah nenek si bayi. Hasil potongan rambut ini kemudian dijadikan satu dengan tai kalong dan pusar yang telah terlepas. Pusar yang telah terlepas ini jika dimakan oleh si bayi saat sudah besar, dipercaya dapat berfungsi sebagai jimat yang keampuhannya setara dengan ilmu kebal senjata.
h.      Slametan Empat Puluh Hari sesudah Melahirkan
Empat puluh hari sesudah melahirkan, biasanya juga diadakan slametan. Jika memiliki biaya, maka slametan 40 hari sesudah melahirkan ini, diselenggarakan dengan meriah seperti pada saat tingkeban. Sarana slametan 40 hari adalah tumpeng dan sayur-mayur. Pada upacara ini diundang pula ibu-ibu untuk menyaksikan prosesi upacara. Prosesi upacara dilakukan dengan memandikan ibu yang baru saja melahirkan.
i.        Tedhak siten
Tedhak siten menurut ST dilakukan saat bayi berumur 6 lapan atau pitung weton. Sarana pada slametan ini adalah beras kuning yang dicampur dengan uang anggris ‘ringgit’, wukon ‘uang setengan rupiyah, talen salaka ‘uang 25 sen yang terbuat dari logam berwarna putih’, padi satu gengam, dan kapas satu dhompol. Jika kapas diambil oleh bayi pada saat upacara, dikatakan bahwa bayi dapat menjadi penguasa yang mampu membawahi beberapa wilayah. Jika yang diambil adalah uang ringgit (anggris), maka akan menjadi orang kaya. Sarana yang lain tidak diterangkan secara rinci dalam ST.
j.        Slametan Satu Tahun dan Slametan Nyapih
Bayi yang berumur satu tahun, menurut ST harus dibuatkan selamatan. Hitungan satu tahun, tidak mengacu pada netu, tetapi hanya berdasarkan hitungan tanggal dan tahun. Menurut ST, waktu yang paling baik untuk menyapih bayi, jika bayi laki-laki ketika berumur 15-16 bulan, jika perempuan 18-19 bulan. Jika melebihi umur tersebut baru disapih, menurut kepercayaan saat dewasa, anak tersebut akan menjadi orang yang bodoh.

3.      Tatacara dan Upacara pada Masa Anak-anak dan Remaja
Tabel 4: Hasil Penelitian Tatacara dan Upacara pada Masa Anak-anak dan Remaja
No.
Tata Cara/ Upacara
Sarana
1.        
Tetesan
Plemek, daun-daunan, kain, sesajian (suruh ayu dan gedhang ayu, gambir wutuhan, jambe tangan), uang suwang seperempat, kunyit
2.        
Pasah
Kain dodot ngrene, suruh ayu, gedhang ayu, kayu dhadhap srep, wingkal, beras kencur,
3.        
Sukeran
Landha merang, air asam kawak, jeruk purut, pandan wangi, kembang setaman, dupa
4.        
Sunatan
Krobongan, lulur garutan, sujen, jampi kacekan
5.        
Tingalan
Tumpeng, wedhus tujah, iwak kebo setunggal
6.        
Mencari jodoh
Congkok

a.      Upacara Tetesan
Upacara tetesan merupakan acara yang dilaksanakan pada saat anak perempuan beranjak remaja. Untuk rakyat jelata, upacara tetesan dilaksanakan pada saat si anak berumur 8 tahun, sedangkan untuk putri-putri dari keluarga bangsawan, upacara ini dilaksanakan saat anak berusia 10 tahun. Karena terdapat pandangan para keluarga bangsawan, bahwa menyelenggarakan upacara tetesan terlalu dini adalah hal yang memalukan.
b.      Upacara Pasah
Upacara pasah ‘meratakan gigi taring’ dilaksanakan pada saat remaja. Untuk anak laki-laki dilakukan pada usia 18 tahun, untuk anak perempuan 12 tahun. Untuk anak perempuan, upacara pasah harus dilaksanakan sebelum si anak mendapat menstruasi yang pertama.
c.       Upacara Sukeran
Upacara sukeran adalah upacara yang diselenggarakan saat anak perempuan pertama kali mendapat menstruasi. Upacara sukeran dilaksanakan pada saat menstruasi selesai. Selama tujuh hari dari menstruasi yang pertama, si anak tidak boleh menyisir rambut dan mandi, hanya boleh dilulur saja.
d.      Upacara Sunatan
Upacara sunatan menurut ST dilakukan saat anak laki-laki berusia 16 tahun. Sunat merupakan kewajiban bagi para pemeluk agama Islam. Namun ada perbedaan dalam segi umur anak yang akan disunat. Menurut hukum Islam, sunat bagi anak lelaki dilakukan saat bayi berumur 40 hari (Soebadyo, 2002: 115). Masyarakat Jawa menerima hal tersebut tetapi sekaligus melakukan adaptasi. Umur 40 oleh masyarakat Jawa dianggap terlalu dini, sehingga anak-anak dari masyarakat Jawa biasanya disunat pada umur 8-16 tahun.
Upacara Sunatan menurut ST dilaksanakan dengan berbagai persiapan. Salah satunya adalah persiapan tempat. Tempat yang digunakan untuk upacara sunatan biasanya dibangun di sebelah timur pendapa berupa krobongan dari bambu wulung yang dipasang pada 4 sisi. Prosesi upacara sunatan dimulai tiga hari sebelum hari H. Prosesi pertama adalah sengkeran atau pingitan. Selama dipingit, anak ditunggui secara bergantian oleh para sesepuh. Satu hari sebelum hari H, diadakan lek-lekan ‘tidak tidur semalam suntuk’ yang dimaksudkan untuk midodareni sunatan,
Saat hari H, pukul 4 pagi si anak sudah mandi berendam di kamar mandi. Prosesi ini bertujuan agar daging yang akan disunat menjadi mengkeret, sehingga saat disunat darah yang keluar tidak terlalu banyak. Sesudah berendam dan mandi, si anak kemudian dirias. Si anak juga memakai kain sembagi merah untuk menampung darah yang keluar, agar tidak mengenai kain. Anak tidak diperkenankan memakai baju, badannya dilulur dengan boreh garutan ‘lulur yang terbuat dari garut’,
Pada pukul 06.00 pagi anak yang akan disunat kemudian diantar menghadap para tamu untuk meminta doa restu dengan cara pangabekti ‘menyembah dan meminta doa restu’ secara khusus kepada para tamu agung, anak kemudian diarak menuju krobongan tempat sunat diikuti para tamu. Tamu-tamu kemudian berdiri di depan krobongan untuk menyaksikan prosesi upacara. Sesudah selesai prosesi keseluruhan, para tamu disuguhi dengan hiburan tayuban sampai dengan sore hari. Malam harinya para tamu datang kembali ke rumah orang tua anak yang ditetak untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

e.       Upacara Tingalan
Tingalan adalah upacara yang diadakan untuk memperingati kelahiran seseorang. Tingalan menurut ST diperingati pada saat seseorang berulang tahun, dan penyelenggaraannya dilakukan pada saat weton orang yang bersangkutan. Sarana upacara tingalan adalah tumpeng dengan jumlah yang disesuaikan dengan umur orang yang berulang tahun. Dua buah tumpeng dibuat besar, melambangkan laki-laki dan perempuan, kemudian sisanya dibuat dengan ukuran lebih kecil. Selain itu juga harus disediakan wedhus tujah yaitu kambing yang dua buah kaki depannya berwarna putih. Kambing ini digunakan untuk menangkal pangapesing wuku ‘kesialan wuku’. Tidak ada prosesi khusus dalam upacara tingalan. Para tamu hanya datang untuk mengucapkan selamat. Tamu-tamu yang datang merupakan mitra orang yang berulang tahun.
Keluarga Tangkilan yang menjadi inti cerita dalam ST adalah keluarga bangsawan yang masih melestarikan tata upacara masyarakat Jawa. Namun konteks budaya dalam salah satu upacara yaitu Upacara Tingalan menunjukkan adanya pengaruh budaya Belanda. Hal ini terlihat pada prosesi upacara tingalan. Disebutkan dalam ST bahwa dalam acara ini yang hadir dikhususkan untuk tamu laki-laki. Acara diselenggarakan mulai pukul 20.00 WIB. Para tamu langsung dipersilahkan menikmati hidangan makan malam. Tengah-tengah acara diisi dengan toast cara Belanda. Cara ini diawali dengan pemukulan gelas oleh tuan rumah. Satu kali memukul gelas merupakan isyarat bagi para pelayan untuk mengisi gelas para tamu dengan minuman. Dilanjutkan dengan dua kali memukul gelas yang merupakan tanda bahwa seluruh gelas para tamu sudah terisi. Kemudian gelas kembali dipukul sebanyak 3 kali. Mendengar gelas dipukul 3 kali, para tamu serentak berdiri. Saat para tamu berdiri inilah, tuan rumah memaparkan doa-doa dan harapan-harapan hidupnya. Sebelum mengucapkan harapan-harapannya tuan rumah memukul gelas terlebih dahulu sebanyak 3x, kemudian 2x, dan 1x, baru berbicara. Sesudah prosesi toast dan makan malam, para tamu kemudian dipersilahkan untuk berpindah ke pendapa. Para tamu laki-laki menghabiskan malam di pendapa dengan bermain kartu, menikmati tari Gambyong, dan Tayuban.
Uraian di atas merupakan bukti bahwa persentuhan budaya antara bangsawan dan bangsa Belanda memang terjadi. Upacara di atas mengadaptasi tata cara ulang tahun bangsa Belanda, namun hiburan tetap khas Jawa yaitu Gambyong dan Tayuban. Selain susunan acara yang diadaptasi dari bangsa Belanda, hidangan-hidangan pun dalam upacara tingalan juga mengadaptasi hidangan ala barat. Hal ini secara jelas termuat dalam buku Adat-Istiadat Jawa (Hardjowirogo, 1979: 101-104) bahwa hidangan yang tersedia dalam Upacara Tingalan biasanya merupakan campuran dari hidangan ala barat dan Jawa. Beberapa hidangan khas barat antara lain kaas-stangel, birthday cake, sosis, permen keras, buah kaleng, dan lain-lain. Namun hidangan khas Jawa juga tersaji dalam acara ini, seperti lapis legit, nasi opor, sambel goreng, timlo, nasi tumpeng, selada usar, dan lain-lain.

f.       Langkah-langkah Orang Tua Mencarikan Jodoh bagi Anaknya
ST tidak membahas secara khusus mengenai upacara pernikahan. ST hanya memuat cara-cara orang tua pada masa lalu untuk mencarikan jodoh bagi anaknya. Langkah-langkah mencarikan jodoh ini termuat dalam ST halaman 75-80. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut:
1)     Orang tua yang akan mencarikan jodoh bagi anaknya akan memakai jasa seorang congkok ‘mak comblang’. Congkok harus pandai berbicara, mampu mempromosikan kebaikan-kebaikan orang yang akan dijodohkan, budi baik orang tua calon, maupun kekayaan harta benda orang yang akan dijodohkan,
2)     Congkok kemudian menjadi mediator penentu hari dan waktu untuk nontoni ‘saling melihat calon’.
3)     Bapak-ibu, anak laki-laki yang akan dijodohkan, beserta kerabatnya kemudian pergi ke rumah orang tua anak perempuan pada hari dan waktu yang telah ditentukan.
4)     Sesudah beberapa waktu, bapak dari anak perempuan (tuan rumah) mempersilahkan bapak dari anak laki-laki untuk masuk rumah. Pada saat inilah anak perempuan yang ditontoni akan menyuguhkan pawohan ‘buah-buahan’ dan pakinangan ‘peralatan dan sarana untuk mengunyah sirih’ di depan para tamu.
5)     Pada saat menyuguhkan buah-buahan dan pakinangan inilah, semua tamu termasuk anak laki-laki yang akan dijodohkan dapat melihat wajah calon istrinya. Jika pihak keluarga dan calon pengantin pria (cpp) setuju dan merasa cocok, ayah cpp kemudian mengirimkan surat lamaran. Jika keluarga dan cpp tidak berkenan dengan cpw, maka ayah cpp tidak perlu mengirimkan surat penolakan. Cukup dengan diam tanpa melakukan apa-apa. Jika tidak menerima kabar apapun cpw sudah jelas jika keluarga cpp tidak berkenan dengan calon pengantin wanita (cpw).
6)     Surat dari ayah cpp diterima oleh cpw. Jika orang tua cpw juga setuju dengan cpp, maka surat lamaran tersebut akan dibalas dengan persetujuan, ditambahkan dengan hal-hal yang terkait dengan proses kelanjutan lamaran. Akan tetapi, jika ayah cpw tidak berkenan dengan cpp, maka surat lamaran tersebut dijawab dengan penolakan secara halus, dengan cara mengatakan bahwa cpw belum siap untuk menikah, belum mau berumah tangga, atau tidak baik menurut perhitungan waktu dan perjodohan.
7)     Jika cpp merupakan anak dari keluarga bangsawan yang lebih rendah derajatnya, dan bermaksud menikahi cpw dari keluarga bangsawan yang lebih tinggi derajatnya, maka keluarga perempuanlah yang berhak nontoni cpp.
B.    Simpulan dan Saran
1.      Simpulan
Melalui penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ST memuat deskripsi tata cara dan daur hidup masyarakat Jawa yang terbagi dalam tiga fase, yaitu prenatal, pascanatal, serta masa anak-anak dan remaja. ST juga memuat simbol-simbol dari sarana dan prasarana upacara seputar daur hidup masyarakat Jawa. Mayoritas simbol-simbol yang digunakan merupakan lambang dari doa keselamatan dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Saran
Penelitian ini hanya menggunakan sumber penelitian dari satu versi ST saja. Oleh karena itu, diharapkan ada penelitian lain mengenai tata cara dan daur hidup masyarakat Jawa dengan menggunakan naskah-naskah sejenis yang ada di museum-museum dan perpustakaan-perpustakaan lain. Seperti naskah-naskah yang dikoleksi oleh Museum Sanabudaya, Tepas Kapujanggan Widya Budaya, dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Daftar Pustaka
Balaskas, Janet. 2005. New Natural Pregnancy. Jakarta: Gramedia.
Baried, Siti Baroroh. 1994. Pengantar Teori Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
Behrend dan Pudjiastuti, T.E. dan Titik. 1997. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 3-B: Fakultas Sastra UI. Jakarta: Yayasan Obor.
Girardet dan Soetanto. 1983. Descriptive Catalogue of the Javanese Manuscripts and Printed Books in the main Libraries of Surakarta and Yogyakarta. Wisbaden: Franz Steiner Verlag GMBH.
Hardjowirogo. 1980. Adat Istiadat Jawa (Sedari Seseorang Masih dalam Kandungan hingga Sesudah Ia Tiada Lagi. Bandung: Patma.
Herusatoto. 1987. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya.
Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
             . 1985. Ritus Peralihan di Indonesia. Jakarta: Penerbitan Nasional Balai      Pustaka.
             . 1987. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
             . 1987. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: UI Press.
Magnis Suseno. 2001. Etika Jawa. Jakarta: Gramedia.
Padmasusastra. 1907. Serat Tata Cara. Batawi: Kangjeng Gupremen.
Poerwadarminta, W. J. S. 1939. Baoesastra Djawa. Groningen Batavia: J. B. Wolters.
Pringgawidagda, Suwarna. 2003. Upacara Tingkeban. Yogyakarta: Adicita.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sedyawati, Edi. Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. 2006. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Soebadyo, Haryati. 2002. Indonesian Heritage: Agama dan Upacara. Jakarta: Buku Antarbangsa.
Sulistyani, Ririn. 2000. Kajian Folklor Upacara Kupatan Jalasutra di Dusun Jalasutra Desa Sri Mulyo Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul Yogyakarta.Yogyakarta: Skripsi Jurusan PBD FBS UNY Yogyakarta.
Sura. 1995. Buku Primbon Jawi Lengkap Edisi Bahasa Indonesia. Solo: UD. Mayasari.
Sutrisno, As. 1982. Pathining Basa Jawa. Semarang: Mutiara Permata Widya.
Widodo, Erna dan Mukhtar. 2000. Konstruksi ke Arah Penelitian Deskriptif. Yogyakarta: Avyrouz.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar