Senin, 23 Juni 2014

Laesan : Kesenian Khas Lasem yang Sarat Makna




A
khir pekan lalu (7/6), Taman Mentri Supeno atau yang lebih dikenal dengan Taman KB diramaikan oleh kerumunan masyarakat yang menyaksikan kegiatan Pekan Kesenian Rakyat Jawa Tengah. Kegiatan Pekan Kesenian Rakyat Jawa Tengah atau PKRJT adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jawa Tengah. Pentas kesenian malam itu merupakan gelaran yang ke 8 setelah sebelumnya dilaksanakan ditempat yang sama pada bulan April lalu.
Pada malam itu ditampilkan kesenian rakyat Gatoloco yang berasal dari Temanggung dan Laesan yang berasal dari Lasem, Rembang. “Laesan adalah suatu kesenian kuno rakyat Lasem yang berarti hampa yang di terjemahkan dalam lakon yang terlihat kosong seperti terhipnotis dan bergerak berdasarkan harmonisasi tembang yang dilantunkan, semakin harmonis tembang mengalun, semakin lama Laesan dapat bangkit,” ujar Yon Suprayoga salah satu pengiat kesenian ini. Didaerah Lasem sendiri grup kesenian ini mereupakan satu-satunya grup Laesan. Kesenian Laesan sendiri dimainkan oleh seorang penari laki-laki yang menari dengan gerakan gemulai bak bidadari. Dalam pertunjukan Laesan, sang penari diiringi oleh beberapa orang pemain alat musik berupa bambu/disebut juga dengan “Jug” yang dipukul-pukul, sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yang ritmik. Sementara beberapa orang menjadi penembang/sinden yang menyanyikan tembang dalam bahasa jawa kuno khas pantura.
Pada zaman presiden Soeharto dulu, kesenian ini sempat dilarang karena dianggap kafir karena dilakukan dengan cara menghilangkan kesadaran para pemain. Selain itu menurut Yon Suprayoga, sekitar pertengahan tahun 60-an kesenian Laesan diadopsi oleh PKI melalui LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) untuk menyebarkan komunisme di tanah Lasem. Namun setelah beberapa tahun belakangan Laesan kembali meraih kejayaannya. Hal ini dikarenakan perubahan stigma masyarakat yang semakin mampu menilai dan melihat Laesan sebagai kesenian yang wajib untuk tetap dilestarikan. Selain itu sesungguhnya Laesan merupakan kesenian yang memiliki ajaran-ajaran yang baik.
Laesan yang asli memiliki empat babak besar permainan. Sesi pembuka adalah ela elo. Pemain dikerangkeng lalu dimasukkan ke dalam kurungan. Selama babak ela-elo yang merupakan simbol manusia ada dalam genggaman dan ikatan dunia, seluruh pemain Laesan tanpa kecuali menyanyikan syair “la illah ha Ilallah iki sari laes” secara berulang-ulang.
Dilanjutkan babak kedua Uculna Bandanira, simbol pelepasan manusia dari ikatan belenggu dunia. Seluruh pemain ganti menyanyikan syair “uculna bandaira iki sari laes, dunung Allah dunung, sapa isa nguculna kejaba Pengeran ira, iki sari laes” juga secara berulang. “Sesi ini ditandai dengan kurungan bergerak-gerak. Pertanda Laesan telah trance dan lepas dari ikatan yang tadi membelenggunya. Pemain Laesan lantas akan keluar dan menari keliling arena di dampingi dua pengawas,” kata Ngalim salah satu koordinator. Dia menambahkan babak ketiga dari Laesan adalah babak permainan yang menyimbolkan berbagai kehidupan manusia. Misalnya permainan yang diiringi syair Kembang Gedhang dan Jaran Dawuk, penari laesan yang sudah keluar dari kurungan, dengan menyentuh penonton yang dikehendaki seketika itu pula penonton langsung trance juga. ”Ada juga permainan dengan syair Luruo Sintren dan Lereng Lereng. Luruo Sintren dipercaya bisa menyembuhkan penyakit orang yang dipegang Laesan. Sedangkan Lereng-lereng dipercaya bisa menghilangkan segala tuah gaib,” terang dia.
Babak terakhir dari Laesan disebut dengan nama Lara Tangis, simbolisasi kematian manusia. Selama babak ini, seluruh pemain khidmat dan hening menyanyikan berulang-ulang syair, “ana tangis layung – layung, larane wong wedi mati. sapa bisa ngelingna, kejaba Pengeran nira.”
Dapat dilihat bahwa Laesan sebenarnya memiliki makna dan filosofis yang sangat mendalam. Hal ini menunjukan daurhidup manusia mulai dari lahir kedunia sampai meninggal. Dengan demikian, apapun wujudnya kesenian merupakan hasil cipta rasa dan karsa manusi yang patut untuk tetap dilestarikan sehingga dapat tetap terus dikenal generasi penerus bangsa nantinya. (Met)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar